Menguraikan
tantangan komunikasi antarbudaya dalam interaksinya dengan dunia global
Tidak
bisa dipungkiri bahwa ada begitu banyak budaya didunia ini, oleh karena itu
keberadaan komunikasi antar budaya itu sangat penting untuk menghubungkan
budaya-budaya yang ada didunia. Setiap budaya pasti memiliki perbedaan, baik hanya sedikit mau banyak,
namun budaya itulah yang menjadi identitas dari suatu kelompok.
Saat ada dua atau lebih budaya yang bertemu satu sama
lain, bias dipastikan akan terjadi gesekan, gesekan itu bisa saja menjadi penghalang,
tantangan,
ataupun rintangan yang pasti
akan menyulitkan proses
komunikasi antar budaya. Berikut merupakan
beberapa tantangan komunikasi antar budaya :
A. Entosentrisme
Entosentrisme
menjadi salah satu tantangan paling berat. Percaya atau tidak, hampir semua
orang di dunia ini pernah berpikir bahwa ras, kelompok, suku, negara atau
bahkan hal sepele sekalipun yang kita miliki merupakan hal yang lebih tinggi
diantara yang lainnya. Jika levelnya sudah akut, kita bahkan akan merendahkan
sampai menjelekkan orang lain yang berbeda dengan kita.
Kita
juga pasti sering menggunakan standar kelompok kita sendiri sebagai standar
untuk menilai kelompok lain, padahal standar kita belum tentu cocok dijadikan
tolak ukur semua hal. Hal itu bisa mengakibatkan suatu pergaulan menjadi
terbatas, padahal komunikasi antarbudaya menyuruh kita untuk berinteraksi
dengan semua kebudayaan yang ada.
B. Perbedaan
makna
Dalam
masyarakat, pasti ada kebiasaan-kebiasaan yang memiliki arti-arti tertentu.
Namun, arti tersebut belum tentu sama antara wilayah satu dengan wilayah lain.
Misalnya, membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengah di amerika
serikat memiliki makna Victory (kemenangan), dibeberapa negara asia lambang itu
juga memiliki makna Damai, sedangkan di amerika selatan lambang itu memiliki
arti Cabul atau Mesum.
Dari contoh contoh diatas kita bisa melihat perbedaan
makna yang jauh dari sebuah lambing sederhana, jadi kita harus hati hati dalam
bertingkah laku supaya tidak menyinggung orang lain.
C. Rasialisme
Rasialisme adalah perilaku semena-mena, diskriminatif,
dan tidak adil terhadap ras lain, perilaku ini sering disebut perilaku rasis. Tidak
hanya menghambat proses komunikasi antarbudaya, perilaku ini juga bisa
mengakibatkan konflik skala besar. Contohnya seperti Apartheid yang terjadi
diafrika selatan dan pembantaian orang yahudi oleh orang jerman pada masa
pedang dunia kedua.
Kita tidak boleh berprasangka buruk dulu hanya karena
mereka terlahir dengan keadaan seperti itu. Jadi, perilaku rasis harus, sangat,
dan wajib dihindari dalam berkomunikasi antar budaya karena hanya akan
menimbulkan konflik yang tidak perlu dan bukan tidak mungkin peristiwa-peristiwa
kelam seperti yang ada diatas kembali terulang.
D. Kesadaran
dan ketidaksadaran
Saat
dua atau lebih orang dengan latar budaya yang berbeda saling berinteraksi, maka
akan ada dua hal yang mungkin terjadi yaitu ketidaksadaran diri sehingga
membuatnya bertindak irasional dan kesadaran untuk berpikir rasional dengan
menganggap perbedaan itu merupakan ilmu baru yang bisa dipelajari. Jadi kesadaran dan ketidaksadaran ini merupakan
respon atas situasi yang mereka hadapi saat menemui perbedaan tersebut.
E. Stereotipe
Merupakan suatu sikap yang menyamaratakan sekelompok
orang, dengan mengabaikan keunikan dan kepribadian setiap orang yang ada
dikelompok itu. Stereotipe akan
menggabungkan seseorang kedalam kelompok berdasarkan keanggotaan orang itu dalam
suatu kelompok dan tidak melihat individu-individu secara unik yang ada didalam
kelompok tersebut.
Ada 2 penyebab munculnya stereotipe, yaitu pertama,
orang cenderung membagi dunia kedalam 2 hal yaitu aku dan mereka, saat
informasi mengenai mereka itu kurang maka akan timbul kecenderungan untuk
menganggap mereka semua sama.
Kedua, orang cenderung malas memikirkan orang lain
terlebih yang tidak begitu dikenalnya, sehingga informasi yang dia miliki
tentang orang itu sangat minim dan tidak valid.
Sikap negatif ini dapat menghambat jalannya komunikasi
antarbudaya yang harmonis juga efektif. Contoh sikap stereotipe seperti kita
beranggapan bahwa orang jawa itu kampungan, orang etnis cina itu selalu perhitungan,
dan orang kaya itu angkuh.
F. Prasangka
Prasangka adalah persepsi yang
salah terhadap individu ataupun kelompok lain, konsep ini mirip dengan stereotipe,
bahkan ada yang mengatakan bahwa prasangka merupakan akibat dari stereotipe.
Pada umumnya prasangka
cenderung negatif, saat berprasangka kita sering berpikir buruk, merendahkan
sampai memusuhi orang lain, padahal mungkin kita belum pernah melakukan apa-apa
dengan orang tersebut.
G. Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses untuk mengetahui dan memahami
orang lain. Jika persepsi berjalan lancar, kemungkinan besar kita bisa
melakukan komunikasi antarbudaya dengan lancar. Namun, jika kta mendapatkan persepsi yang salah,
kita akan cenderung menjaga jarak bahkan menghindari orang tersebut.
Oleh karena itu, kita harus
hati-hati dalam mempersepsikan suatu kebudayaan, jangan dulu berpikir negatif
saat menemukan sesuatu yang berbeda dari budaya lain. Cari tahu dan pahami lebih
jauh mengenai hal tersebut terlebih dahulu agar kita tidak mendapatkan persepsi
yang salah.
H.
Atribusi
Atribusi merupakan suatu proses mengidentifikasi penyebab perilaku
yang dilakukan seseorang untuk memposisikan dirinya. Atribusi juga bisa
mengidentifiakasi budaya lain dengan menggunakan budayanya sendiri. Sering kali
orang yang melakukan hal ini akan berpikiran negatif saat menemukan fakta bahwa
budaya lain memiliki perbedaan.
Namun sebagian orang justru
tertarik saat menemukan perbedaan tersebut, dia akan menganggap hal tersebut
unik dan perlu diteliti lebih lanjut, hal ini merupakan atribusi yang positif.
I.
Sikap
Sikap adalah hasil penilaian kita dari berbagai aspek terhadap suatu hal. Singkatnya,
sikap merupakan reaksi terhadap suatu hal. Sikap yang diambil terhadap suatu
budaya lain akan mempengaruhi pilihannya terhadapa budaya tersebut kedepannya.
Suatu sikap akan menimbulkan
rasa suka dan tidak suka, jadi sebaiknya kita harus selalu bersikap positif
dalam melakukan komunikasi antarbudaya. Itu juga untuk menjaga image bahwa
budaya yang ada pada kita merupakan budaya yang baik.
J.
Bahasa
Sebagai salah satu sarana utama dalam penyampaian pesan,
bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan antara budaya satu dengan yang
lain. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda tergantung bahasa mana
yang digunakan, apabila anda tidak sengaja mengatakan kata yang tabu padahal
itu adalah hal biasa bagi bahasa anda, bukan tidak mungkin konflik akan terjadi
karena ketidaksengajaan dan ketidaktahuan itu.
Contohnya, kata “batuk” dalam
bahasa indonesia adalah nama sebuah penyakit namun dalam bahasa jawa batuk
berarti “dahi”. Kata “kenyang” dalam bahasa indonesia berarti sudah puas makan
namun dalam bahasa bali memiliki arti alat kelamin pria. Jadi bahasa memang
harus diperhatikan saat berinteraksi dengan orang dari budaya lain.
K.
Paralinguistik
Paralinguistik adalah gaya bicara dari seseorang seperti dialek, aksen,
tinggi rendah nada, dan tempo bicara. Setiap budaya memiliki gaya mereka masing
masing, seperti orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat sedangkan
orang solo berbicara dengan pelan dan lembut.
L.
Pengalaman
Pengalaman hidup yang telah dilalui juga bisa menentukan
bagaimana sikap seseorang dalam berkomunikasi antar budaya. Orang yang terbiasa
berada dalam lingkungan yang berbeda kemungkinan besar tidak akan mendapat
masalah jika berinteraksi lagi dengan budaya lain.
Namun jika orang itu belum
pernah sama sekali berinteraksi dengan budaya lain, kemungkinan berhasilnya
akan kecil. Ada kasus lain dimana seseorang pernah mengalami kejadian buruk
saat mencoba berinteraksi dengan budaya lain.
Hal itu bisa menyebabkan
trauma dan membuat komunikasi antar budaya menjadi gagal, jadi meskipun
pengalaman bukan merupakan faktor yang sangat menentukan dan hanya faktor
pendukung namun jika anda memiliki pengalaman maka berkomunikasi akan jauh
lebih mudah.
M.
Salah Tafsir
Dalam berkomunikasi, salah tafsir sangat sering terjadi, penyebabnya bisa
karena suara yang tidak jelas, menggunakan bahasa serapan yang belum dimengerti
penerima, mimik wajah, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, untuk
menghindari salah tafsir disarankan untuk mencari informasi terlebih dahulu
mengenai budaya tersebut terutama tentang hal hal yang dilarang dan
diperbolehkan. Juga kita harus mencoba menggunakan bahasa yang sederhana dan
mudah dimengerti agar tidak terjadi hal tersebut.
N.
Motivasi
Motivasi menentukan ketertarikan seseorang dalam berkomunikasi,
jika seseorang sangat termotivasi, secara aktif dia akan mencoba melakukan
banyak hal untuk memuaskan rasa penasarannya akan hal-hal baru.
Memiliki seorang motivator
juga bisa membantu dalam meningkatkan motivasi, orang tersebut bisa saja teman,
guru, orang tua dan lain sebagainya.
O.
Kompetisi
Hal ini akan terjadi apabila anda berkomunikasi sambil melakukan kegiatan
lain misalnya menyetir, menelpon, menonton televisi dan lain sebagainya. Normalnya
seseorang hanya akan fokus pada satu hal saja, jadi orang tersebut cenderung
tidak memperhatikan hal yang satunya.
Oleh karena itu, disarankan
untuk tidak melakukan hal lain saat berkomunikasi agar anda bisa fokus dan
mendapat informasi yang benar. Hal itu juga untuk menghormati orang yang anda
ajak berkomunikasi agar dia tidak merasa sakit hati karena diduakan.
P.
Emosional
Faktor emosional memang tidak bisa diabaikan, saat emosi seseorang sedang bagus
kemungkinan mereka akan bisa berinteraksi dengan bagus juga. Sebaliknya jika
emosi sedang buruk, bukan tidak mungkin malah akan mengacaukan komunikasi yang
telah terjadi.
Tidak perlu memaksakan diri
untuk melakukan komunikasi antar budaya saat emosi kita sedang buruk atau tidak
terkontrol, yang ada malah akan mengakibatkan sebuah masalah.
Q.
Jarak
Sosial
Merujuk pada kedekatan antarkelompok secara fisik maupun sosial. Istilah ini
berbeda dengan stratifikasi, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat
peradaban antara suatu kelompok dengan kelompok yang lain.
Jarak sosal terdang juga
disebut sebagai jarak peradaban, istilah ini muncul untuk menyebutkan adanya
perbedaan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Contoh sederhana untuk
menyebutkan jarak sosial adalah adanya perbedaan yang sangat jauh antara
perkotaan dengan desa terpencil. Perkotaan memiliki tingkat teknologi yang jauh
lebih maju dari pada desa terpencil yang mungkin masih menggunakan alat-alat
tradisional dalam kesehariannya.
Daftar Pustaka
Ali, Mukti. 2016. Komunikasi Antarbudaya dalam Tradisi
Agama Jawa. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group.
Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi
Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.
Mulyana,
Deddy.
2005. Komunikasi Antarbudaya.
Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Mulyana,Deddy.
2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya.
Hidayat,
Dasrun. 2012. Komunikasi Antarpribadi Dan Medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Narsullah, Rulli. 2014. Komunikasi Antar Budaya Di Era
Budaya Siber. Jakarta: Kencana.
J. Baran, Stanley. 2012. Pengantar Komunikasi Massa
Melek Media & Budaya. Jakarta: Erlangga.
Darmastuti, Rini. 2013. Minfulness dalam Komunikasi
Antarbudaya. Malang: Buku Litera.
Darmastuti, Rini. 2013. Komunikasi Antarbudaya :
Konsep, Teori, dan Aplikasi. Malang: Buku Litera.
Sihabudin, Ahmad. 2011. Komunikasi Antarbudaya Satu
Perspektif Multidimensi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
No comments:
Post a Comment