Monday, June 4, 2018

Tantangan-Tantangan Komunikasi Antarbudaya


Menguraikan tantangan komunikasi antarbudaya dalam interaksinya dengan dunia global

ditulis oleh : Muhammad Rifqul Umam

Download PDF

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada begitu banyak budaya didunia ini, oleh karena itu keberadaan komunikasi antar budaya itu sangat penting untuk menghubungkan budaya-budaya yang ada didunia. Setiap budaya pasti memiliki perbedaan, baik hanya sedikit mau banyak, namun budaya itulah yang menjadi identitas dari suatu kelompok.
Saat ada dua atau lebih budaya yang bertemu satu sama lain, bias dipastikan akan terjadi gesekan, gesekan itu bisa saja menjadi penghalang, tantangan, ataupun rintangan yang pasti akan menyulitkan proses komunikasi antar budaya. Berikut merupakan beberapa tantangan komunikasi antar budaya :

A.    Entosentrisme
Entosentrisme menjadi salah satu tantangan paling berat. Percaya atau tidak, hampir semua orang di dunia ini pernah berpikir bahwa ras, kelompok, suku, negara atau bahkan hal sepele sekalipun yang kita miliki merupakan hal yang lebih tinggi diantara yang lainnya. Jika levelnya sudah akut, kita bahkan akan merendahkan sampai menjelekkan orang lain yang berbeda dengan kita.
Kita juga pasti sering menggunakan standar kelompok kita sendiri sebagai standar untuk menilai kelompok lain, padahal standar kita belum tentu cocok dijadikan tolak ukur semua hal. Hal itu bisa mengakibatkan suatu pergaulan menjadi terbatas, padahal komunikasi antarbudaya menyuruh kita untuk berinteraksi dengan semua kebudayaan yang ada.

B.     Perbedaan makna
Dalam masyarakat, pasti ada kebiasaan-kebiasaan yang memiliki arti-arti tertentu. Namun, arti tersebut belum tentu sama antara wilayah satu dengan wilayah lain. Misalnya, membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengah di amerika serikat memiliki makna Victory (kemenangan), dibeberapa negara asia lambang itu juga memiliki makna Damai, sedangkan di amerika selatan lambang itu memiliki arti Cabul atau Mesum.
Dari contoh contoh diatas kita bisa melihat perbedaan makna yang jauh dari sebuah lambing sederhana, jadi kita harus hati hati dalam bertingkah laku supaya tidak menyinggung orang lain.

C.     Rasialisme
Rasialisme adalah perilaku semena-mena, diskriminatif, dan tidak adil terhadap ras lain, perilaku ini sering disebut perilaku rasis. Tidak hanya menghambat proses komunikasi antarbudaya, perilaku ini juga bisa mengakibatkan konflik skala besar. Contohnya seperti Apartheid yang terjadi diafrika selatan dan pembantaian orang yahudi oleh orang jerman pada masa pedang dunia kedua.
Kita tidak boleh berprasangka buruk dulu hanya karena mereka terlahir dengan keadaan seperti itu. Jadi, perilaku rasis harus, sangat, dan wajib dihindari dalam berkomunikasi antar budaya karena hanya akan menimbulkan konflik yang tidak perlu dan bukan tidak mungkin peristiwa-peristiwa kelam seperti yang ada diatas kembali terulang.

D.    Kesadaran dan ketidaksadaran
Saat dua atau lebih orang dengan latar budaya yang berbeda saling berinteraksi, maka akan ada dua hal yang mungkin terjadi yaitu ketidaksadaran diri sehingga membuatnya bertindak irasional dan kesadaran untuk berpikir rasional dengan menganggap perbedaan itu merupakan ilmu baru yang bisa dipelajari. Jadi kesadaran dan ketidaksadaran ini merupakan respon atas situasi yang mereka hadapi saat menemui perbedaan tersebut.

E.     Stereotipe
Merupakan suatu sikap yang menyamaratakan sekelompok orang, dengan mengabaikan keunikan dan kepribadian setiap orang yang ada dikelompok  itu. Stereotipe akan menggabungkan seseorang kedalam kelompok berdasarkan keanggotaan orang itu dalam suatu kelompok dan tidak melihat individu-individu secara unik yang ada didalam kelompok tersebut.
Ada 2 penyebab munculnya stereotipe, yaitu pertama, orang cenderung membagi dunia kedalam 2 hal yaitu aku dan mereka, saat informasi mengenai mereka itu kurang maka akan timbul kecenderungan untuk menganggap mereka semua sama.
Kedua, orang cenderung malas memikirkan orang lain terlebih yang tidak begitu dikenalnya, sehingga informasi yang dia miliki tentang orang itu sangat minim dan tidak valid.
Sikap negatif ini dapat menghambat jalannya komunikasi antarbudaya yang harmonis juga efektif. Contoh sikap stereotipe seperti kita beranggapan bahwa orang jawa itu kampungan, orang etnis cina itu selalu perhitungan, dan orang kaya itu angkuh.

F.      Prasangka
Prasangka adalah persepsi yang salah terhadap individu ataupun kelompok lain, konsep ini mirip dengan stereotipe, bahkan ada yang mengatakan bahwa prasangka merupakan akibat dari stereotipe.
Pada umumnya prasangka cenderung negatif, saat berprasangka kita sering berpikir buruk, merendahkan sampai memusuhi orang lain, padahal mungkin kita belum pernah melakukan apa-apa dengan orang tersebut.

G.    Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses untuk mengetahui dan memahami orang lain. Jika persepsi berjalan lancar, kemungkinan besar kita bisa melakukan komunikasi antarbudaya dengan lancar. Namun, jika kta mendapatkan persepsi yang salah, kita akan cenderung menjaga jarak bahkan menghindari orang tersebut.
Oleh karena itu, kita harus hati-hati dalam mempersepsikan suatu kebudayaan, jangan dulu berpikir negatif saat menemukan sesuatu yang berbeda dari budaya lain. Cari tahu dan pahami lebih jauh mengenai hal tersebut terlebih dahulu agar kita tidak mendapatkan persepsi yang salah.

H.    Atribusi
Atribusi merupakan suatu proses mengidentifikasi penyebab perilaku yang dilakukan seseorang untuk memposisikan dirinya. Atribusi juga bisa mengidentifiakasi budaya lain dengan menggunakan budayanya sendiri. Sering kali orang yang melakukan hal ini akan berpikiran negatif saat menemukan fakta bahwa budaya lain memiliki perbedaan.
Namun sebagian orang justru tertarik saat menemukan perbedaan tersebut, dia akan menganggap hal tersebut unik dan perlu diteliti lebih lanjut, hal ini merupakan atribusi yang positif.

I.        Sikap
Sikap adalah hasil penilaian kita dari berbagai aspek terhadap suatu hal. Singkatnya, sikap merupakan reaksi terhadap suatu hal. Sikap yang diambil terhadap suatu budaya lain akan mempengaruhi pilihannya terhadapa budaya tersebut kedepannya.
Suatu sikap akan menimbulkan rasa suka dan tidak suka, jadi sebaiknya kita harus selalu bersikap positif dalam melakukan komunikasi antarbudaya. Itu juga untuk menjaga image bahwa budaya yang ada pada kita merupakan budaya yang baik.

J.       Bahasa
Sebagai salah satu sarana utama dalam penyampaian pesan, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan antara budaya satu dengan yang lain. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda tergantung bahasa mana yang digunakan, apabila anda tidak sengaja mengatakan kata yang tabu padahal itu adalah hal biasa bagi bahasa anda, bukan tidak mungkin konflik akan terjadi karena ketidaksengajaan dan ketidaktahuan itu.
Contohnya, kata “batuk” dalam bahasa indonesia adalah nama sebuah penyakit namun dalam bahasa jawa batuk berarti “dahi”. Kata “kenyang” dalam bahasa indonesia berarti sudah puas makan namun dalam bahasa bali memiliki arti alat kelamin pria. Jadi bahasa memang harus diperhatikan saat berinteraksi dengan orang dari budaya lain.

K.    Paralinguistik
Paralinguistik adalah gaya bicara dari seseorang seperti dialek, aksen, tinggi rendah nada, dan tempo bicara. Setiap budaya memiliki gaya mereka masing masing, seperti orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat sedangkan orang solo berbicara dengan pelan dan lembut.

L.     Pengalaman
Pengalaman hidup yang telah dilalui juga bisa menentukan bagaimana sikap seseorang dalam berkomunikasi antar budaya. Orang yang terbiasa berada dalam lingkungan yang berbeda kemungkinan besar tidak akan mendapat masalah jika berinteraksi lagi dengan budaya lain.
Namun jika orang itu belum pernah sama sekali berinteraksi dengan budaya lain, kemungkinan berhasilnya akan kecil. Ada kasus lain dimana seseorang pernah mengalami kejadian buruk saat mencoba berinteraksi dengan budaya lain.
Hal itu bisa menyebabkan trauma dan membuat komunikasi antar budaya menjadi gagal, jadi meskipun pengalaman bukan merupakan faktor yang sangat menentukan dan hanya faktor pendukung namun jika anda memiliki pengalaman maka berkomunikasi akan jauh lebih mudah.

M.   Salah Tafsir
Dalam berkomunikasi, salah tafsir sangat sering terjadi, penyebabnya bisa karena suara yang tidak jelas, menggunakan bahasa serapan yang belum dimengerti penerima, mimik wajah, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, untuk menghindari salah tafsir disarankan untuk mencari informasi terlebih dahulu mengenai budaya tersebut terutama tentang hal hal yang dilarang dan diperbolehkan. Juga kita harus mencoba menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti agar tidak terjadi hal tersebut.

N.    Motivasi
Motivasi menentukan ketertarikan seseorang dalam berkomunikasi, jika seseorang sangat termotivasi, secara aktif dia akan mencoba melakukan banyak hal untuk memuaskan rasa penasarannya akan hal-hal baru.
Memiliki seorang motivator juga bisa membantu dalam meningkatkan motivasi, orang tersebut bisa saja teman, guru, orang tua dan lain sebagainya.

O.    Kompetisi
Hal ini akan terjadi apabila anda berkomunikasi sambil melakukan kegiatan lain misalnya menyetir, menelpon, menonton televisi dan lain sebagainya. Normalnya seseorang hanya akan fokus pada satu hal saja, jadi orang tersebut cenderung tidak memperhatikan hal yang satunya.
Oleh karena itu, disarankan untuk tidak melakukan hal lain saat berkomunikasi agar anda bisa fokus dan mendapat informasi yang benar. Hal itu juga untuk menghormati orang yang anda ajak berkomunikasi agar dia tidak merasa sakit hati karena diduakan.

P.      Emosional
Faktor emosional memang tidak bisa diabaikan, saat emosi seseorang sedang bagus kemungkinan mereka akan bisa berinteraksi dengan bagus juga. Sebaliknya jika emosi sedang buruk, bukan tidak mungkin malah akan mengacaukan komunikasi yang telah terjadi.
Tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan komunikasi antar budaya saat emosi kita sedang buruk atau tidak terkontrol, yang ada malah akan mengakibatkan sebuah masalah.

Q.    Jarak Sosial
Merujuk pada kedekatan antarkelompok secara fisik maupun sosial. Istilah ini berbeda dengan stratifikasi, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antara suatu kelompok dengan kelompok yang lain.
Jarak sosal terdang juga disebut sebagai jarak peradaban, istilah ini muncul untuk menyebutkan adanya perbedaan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Contoh sederhana untuk menyebutkan jarak sosial adalah adanya perbedaan yang sangat jauh antara perkotaan dengan desa terpencil. Perkotaan memiliki tingkat teknologi yang jauh lebih maju dari pada desa terpencil yang mungkin masih menggunakan alat-alat tradisional dalam kesehariannya.
Daftar Pustaka

Ali, Mukti. 2016. Komunikasi Antarbudaya dalam Tradisi Agama Jawa. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group.
Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.
Mulyana, Deddy. 2005. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana,Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya.
Hidayat, Dasrun. 2012. Komunikasi Antarpribadi Dan Medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Narsullah, Rulli. 2014. Komunikasi Antar Budaya Di Era Budaya Siber. Jakarta: Kencana.
J. Baran, Stanley. 2012. Pengantar Komunikasi Massa Melek Media & Budaya. Jakarta: Erlangga.
Darmastuti, Rini. 2013. Minfulness dalam Komunikasi Antarbudaya. Malang: Buku Litera.
Darmastuti, Rini. 2013. Komunikasi Antarbudaya : Konsep, Teori, dan Aplikasi. Malang: Buku Litera.
Sihabudin, Ahmad. 2011. Komunikasi Antarbudaya Satu Perspektif Multidimensi. Jakarta: PT Bumi Aksara.

No comments:

Post a Comment