Thursday, June 7, 2018

Identitas dalam Komunikasi antar Budaya


Identitas dalam Komunikasi antar Budaya

Ditulis oleh : Arista Rizki


Komunikasi antar Budaya (Intercultural, Communication) merujuk pada komunikasi antara individu individu yang latar belakang budayanya berbeda. Individu individu ini tidak harus selalu berasa dari negara yang berbeda, bukan pula rumpun, rasa tau suku budaya melainkan pada realitasnya bahwa setiap individu sudah berbeda pula budayanya. Maka dalam sebuah komunikasi budaya ini harus ada identitasnya, supaya dapat mengetahui atau dapat menonjolkan budaya di daerah tertentu. Semua perwujudan, baik yang berupa struktur maupun proses dari kegiatan manusia dalam dimensi ideasional, etis, estetis itu adalah kebudayaan. Selanjutnya E.B Tayor dalam bukunya “Primitive Culture” merumuskan definisi secara sistematis dan ilmiah tentang kebudayaan sebagai berikut : “kebudayaan adalah komplikasi (jalinan) dalam keseluruhan yang meliputi keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, agama dll.
Identitas adalah jati diri yang dimiliki seseorang yang ia peroleh sejak lahir hingga melalui proses interaksi yang dilakukannya setiap hari dalam kehidupannya dan kemudian membentuk suatu pola khusus yang mendefinisikan tentang orang tersebut. Sedangkan Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sehingga Identitas Budaya memiliki pengertian suatu karakter khusus yang melekat dalam suatu kebudayaan sehingga bisa dibedakan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Menurut Goldman, seorang pengarang tidak mungkin menciptakan atau mempunyai pandangan sendiri. Pada dasarnya dia menyuarakan pandangan tersebut bukanlah suatu realitas, melaikan sesuatu yang hanya dapat dinyatakan secara imajinatif dan konseptual dalam bentuk karya sastra besar (Goldman 1975 : 5; Junus, 1986 : 225). Ada tiga factor dalam identitas kebudayaan, diantaranya :
1.      Kepercayaan. Kepercayaan menjadi faktor utama dalam identitas budaya, tanpa adanya kepercayaan yang di anut maka tidak akan terbentuk suatu identitas budaya yang melekat pada suatu kebudayaan. Contohnya mempercayai tradisi pecah telur pada saat resepsi pernikahan yang dipercaya sebagai salah satu tradisi penting masyarakat Jawa dalam resepsi pernikahan.
2.      Rasa aman. Perasaan aman atau positif bagi penganut suatu kebudayaan menjadi faktor terbentuknya identitas budaya, karena tanpa adanya rasa aman dari pelaku kegiatan budaya maka tidak akan dilakukan secara terus menerus sesuatu yang dianggapnya negatif dan tidak aman. Contohnya tidak ada kebiasaan menyakiti sesama karena dianggap saling menyakiti adalah tidak memberikan rasa aman bagi siapapun.
3.      Pola perilaku. Pola perilaku juga menjadi faktor pembentuk identitas budaya, bagaimana pola perilaku kita dimasyarakat mencerminkan identitas budaya yang kita anut. Dalam hal ini biasa terjadinya diskriminasi terhadap orang-orang tertentu yang berprilaku kurang baik menurut orang sekitarnya yang pada umumnya didalam budaya orang tersebut adalah sesuatu yang wajar dilakukan.

Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki warisan budaya yang sangat kaya. Berbagai macam tradisi dan adat-istiadat yang dimiliki Indonesia seperti menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Indonesia menjadi kaya karena budayanya. Kekayaan budaya itu ditambah lagi dengan masuknya berbagai unsur kebudayaan asing ke dalam Indonesia melalui proses akulturasi dan asimilasi. Akulturasi adalah bergabungnya dua kebudayaan atau lebih  sehingga menciptakan suatu kebudayaan baru, tanpa menghilangkan kepribadian dari kebudayaan asli. Sedangkan asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan atau lebih sehingga menghasilkan suatu kebudayaan baru, yang berbeda dengan kebudayaan aslinya. Asimilasi ini biasa terjadi pada golongan minoritas dan golongan mayoritas pada suatu tempat.
Masyarakat Indonesia dikatakan multicultural, karena konsep inilah yang mengedepankan nilai budaya. Sehingga kita kerap mendengan Islam Nusantara yang tak jauh dari pluralisme. Konsep yang berkaitan dengan komunikasi antar budaya meliputi Etnik, Ras, etnosentris, dan Multikultural. Etnik adalah suatu kumpulan orang yang disadarkan oleh suatu budaya yang sama. Ras adalah suatu himpunan manusia yang disamakan baik bentuk fisik nya atau keturunannya. Etnosentris adalah sebuah keinginan hati yang lebih yang ingin membuktikan bahwa kelompok nya lebih superior dibangding kelompok lain. Sedangkan multicultural yaitu sebuah susunan dari kebudayaan.
 Benar yang dikatakan Andreas Schneider bahwa peran itu peran itu lebih mengacu pada harapan dan tidaka sekedar pada perilaku actual dan peran itu lebih bersifat normative dari pada sekedar deskriptif. Pada umumnya suatu kelompok atau kultur social pastiselalu memiliki peraturan seperti : perilaku peran dan nilai nilaidemikian pula halnya dengan organisasi. Oleh karena itu organisasi harus mengidentifikasi jenis kultur, norma norma atau aturan yang dianut. Dari penjabaran pengertian di atas kemudian berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi identitas budaya maupun yang berkaitan erat dengan identitas budaya yaitu :
Asimilasi budaya
Pengertian asimilasi budaya adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Hasil dari proses asimilasi yaitu semakin tipisnya batas perbedaan antarindividu dalam suatu kelompok, atau bisa juga batas-batas antarkelompok. Selanjutnya, individu melakukan identifikasi diri dengan kepentingan bersama. Artinya, menyesuaikan kemauannya dengan kemauan kelompok. Demikian pula antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
Golongan yang biasanya mengalami proses asimilasi adalah golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Dalam hal ini, kebudayaan minoritaslah yang mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaannya, dengan tujuan menyesuaikan diri dengan kebudayaan mayoritas; sehingga lambat laun kebudayaan minoritas tersebut kehilangan kepribadian kebudayaannya dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.
Faktor penghambat asimilasi budaya :
1.      Kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan yang dihadapi.
2.      Sifat takut terhadap kekuatan dari kebudayaan lain.
3.      Perasaan superioritas pada individu-individu dari satu kebudayaan terhadap yang lain.
4.      Toleransi dan simpati yang kurang dari pihak mayoritas.
Contoh dari asimilasi budaya adalah :
Salah satu contoh proses asimilasi adalah program transmigrasi yang dilaksanakan di Riau pada masa pemerintahan Orde Baru. Program transmigrasi ini tidak hanya berhasil meratakan jumlah penduduk di berbagai pulau di Indonesia, tetapi program transmigrasi ini juga mengakibatkan terjadinya asimilasi, terutama diwilayah Riau. Hal ini terlihat dari banyaknya transmigran yang menghasilkan budaya baru, misalnya Jawa-Melayu, Mandailing-Melayu, dan lain sebagainya.
Akulturasi budaya
Akulturasi (acculturation atau culture contact) adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Faktor-faktor yang menyebabkan Akulturasi budaya sebagai proses hilangnya suatu identitas budaya adalah :
1.      Individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur kebudayaan asing.
2.      Saluran-saluran yang dilalui oleh unsur-unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam km kebudayaan penerima terbuka lebar.
3.      Sifat penerima tanpa adanya filtering dari masyarakat Indonesia yang menyebabkan budaya asing yang negatif pun dengan sangat mudah masuk dan menjadi budaya Indonesia sekarang.
Contoh dari Akulturasi budaya positif :
Kereta Singa Barong kota Cirebon, yang dibuat pada tahun 1549, merupakan refleksi dari persahabatan Cirebon dengan bangsa-bangsa lain. Wajah kereta ini merupakan perwujudan tiga binatang yang digabung menjadi satu, gajah dengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh hewan burak.
Belalai gajah merupakan persahabatan dengan India yang beragama Hindu,kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam.
Contoh dari Akulturasi budaya negatif :
Mulai masuknya budaya free sex dikalangan remaja yang merupakan ciri khas dari beberapa budaya luar yang mulai merasuki budaya Indonesia seiring dengan perkembangan jaman.
Sekurang-kurangnya ada dua akibat identitas sosial-budaya, yakni terciptanya kategori sosial dan stratifikasi sosial. Kategori sosial adalah kategori suatu masyarakat berdasarkan identitas-identitas sosial tertentu yang diduga dapat menampilkan pola komunikasi antarbudaya tertentu pula. Sedang stratifikasi sosial berkaitan dengan cara pandang masyarakat teradap lapisan-lapisan sosial yang terbentuk karena adanya perbedaan dominasi dalam relasi antar kelompok. Kategorisasi sosial budaya itu sendiri dapat dirinci sebagai berikut:
1.      Wilayah, Desa, dan KotaYakni pembedaan pola-pola komunikasi antar ornag desa dan kota berdasarkan identitas kehidupan, apakah kosmopolitan, ritualisasi, pemeliharaan budaya, dan konsep tentang relasi antarmanusia.
2.      Etnosentrisme Bahwa setiap kelompok, etnik, atau ras mempunyai semangat atau ideologi yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok enik atau ras lain.
3.      Stereotip Evaluasi atau penilaian yang kita berikan kepada seseorang secara negatif, memiliki sifat-sifat ynag negatif hanya karena keanggotaan orang itu pada kelompok tertentu.
4.      Prasangka Sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi atau generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan sebagai perasaan. Prasangka merupakan sikap negatif yang ditujukan kepada suatu kelompok buday ayang didasarkan pada sedikit pengalaman atau nbahkan tanpa pengalaman sama sekali.
5.      Diskriminasi Perilaku yang dihasilkan oleh stereotip atau prasangka, lalu ditunjukkan pada sikap yang terbuka atau rencana tertutup untuk menyingkirkan, menjahui, atau membuka jarak, baik bersifat fisik maupun sosial dengan kelompok-kelompok tertentu.

Dalam pengertian sederhana yang kita maksudkan dengan identitas budaya adalah rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya tatkala dibandingkan dengan karekteristik atau ciri-ciri orang lain. Kenneth Burke mengatakan bahwa menentukan identitas budaya itu sangat tergantung pada bahasa, sebagaimana representasi bahasa menjelaskan semua kenyataan atas semua identitas yang dirinci kemudian dibandingkan. Lisa Orr juga menegaskan bahwa untuk mengetahui identitas orang lain  pada awal berkomunikasi merupakan pertanyaan yang paling sulit, apalagi kalau berkeinginan mengetahui kebudayaan otentik dari orang itu. Mengenal identitas seseorang tidak bisa hanya dengan sepotong-potng karena identitas budaya merupakan cultural totalization. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jika kita bicara identitas maka kita hanya bicara tentang karakteristik tertentu dan karakteristik itu merupakan penunjuk untuk mengenal kelompok lain sehingga memudahkan kita berkomunikasi dengan mereka. Sebaliknya, jika kita bicara tentang pola budaya maka yang kita tekankan adalah bagaimana sebuah identitas itu terbentuk dari pandangan dan gagasan tertentu yang pada giliranya membimbing mereka. Sehingga identitas itu bersifat statis, dan pola budaya merupakan sesuatu yang hidup.

Identitas kebudayaan kita dikembangkan melalui proses yang meliputi beberapa tahap:

1.      Identitas budaya yang tak disengaja
Pada tahap ini, identitas budaya terbentuk secara tidak disengaja atau tidak disadari. Anda terpengaruh oleh budaya dominan hanya karena Anda merasa budaya milik Anda kurang akomodatif, sehingga Anda ikut-ikutan membentuk identitas baru.
2.      Pencarian Identitas Budaya
Pencarian identitas budaya meliputi sebuah proses penanjakan, bertanya,d an uji coba atas sebuah identitas lain, di mana Anda terus mencari dan belajar tentang itu dengan melakukan penelitian mendalam, bertanya pada keluarga atau teman, atau bahkan melacaknya secara ilmiah.
3.      Identitas Budaya yang Diperoleh
Yaitu bentuk identitas yang dirincikan oleh kejelasan dan keyakinan terhadap penerimaan diri aAnda melalui interaksi kebudayaan sehingga membentuk identitas Anda.
4.      Konformitas: Internalisasi
Proses pembentukan juga identitas dapat diperoleh melalui internalisasi yang membentuk konformitas. Jadi, proses internalisasi berfungsi untuk membuat norma-norma yang Anda miliki menjadi sama dengan norma-norma yang dominan, atau membuat norma yang Anda miliki berasimilasi ke dalam kultur dominan.
5.      Resistensi dan Separatisme
Adalah pembentukan identitas sebuah kultur dari sebuah komunitas tertentu sebagai suatu komunitas yang berperilaku eksklusif untuk menolak norma-norma kultur dominan.



6.      Integrasi
Pembentukan dengan cara seseorang atau sekelompok orang mengembangkan identitas baru yang merupakan hasil integrasi pelbagai budaya dari komunitas ata masyarakat asal.
Nah itulah adalah singkatan atau bahasan yang mempunyai arti yang lebih dalam sebuah identitas kebudayaan, semoga bisa menjadi manfaat bagi siapapun yang membacanya. Amiin

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 1997. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : PT Rineka Cipta
Ali, Mukti. 2017. Komunikasi Antar Budaya Tradisi Agama Islam.
Yogyakarta : CV. Pustaka Ilmu Group
Fananie, Zainudin. 2000. Restrukturi Budaya Jawa perspektif KGPAA MN 1.
            Surakarta : Muhammadia University Press
Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Koentjaraningrat. 1979. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : djambatan
Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya.
Yogyakarta : LKis Yogyakarta
Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta. :  Grasindo

Monday, June 4, 2018

Pengaruh Komunikasi Antarbudaya Dalam Dunia Global

Pengaruh Komunikasi Antarbudaya Dalam Dunia Global

Ditulis oleh: Subandana Adi Saputra

Download PDF
           
Komunikasi antar budaya dapat dipersepsi sebagai perbedaan kebudayaan dalam mempersepsi objek-objek dan kejadian-kejadian. Menurut porter dan samovar dalam mukti (2016:13) pengaruh budaya dapat dilihat dari cara berkomunikasi, bahasa dan gaya bahasa, serta perilaku  nonverbal  yang merupakan bentuk respon atas budaya.
Porter dan samovar mengemukakan bahwa untuk mengkaji komunikasi antar budaya perlu dipahami hubungan antara kebudayaan dan komunikasi. Budya mempengaruhi manusia dalam belajar berkomunikasi dan memandang dunia melalui kategori-kategori, konsep-konsep dari label yang dihasilkan budayanya.
Di era global saat ini pemahaman tentang  kounikasi antar budaya sangat diperlukan karena kan sangat menunjang keberhasilan dalm berkomunikasi lingkup global, bisa saling memehami  dan menghindari konflik karena keslahpahaman.
Dalam alquran pun diterangkan beberapa ayat tentang pentingnya memahami perbedan
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs Al hujarat:13)
Beberapa dari kita mungkin bertanya-tanya mengapa  kita  harus menekankan perbedaan budaya. Akankah globlisasi dalam jangka panjangkan menyebabkan Universality of cultures dimana manusia akan berbicara dengan bahasa yang sama (ingris) dan mempraktikan norma dan nilai yang sama? Jauh dari idealnya, budaya akan tetap beranekaa ragam walaupun setiap budaya yang ada akan berubah setiap waktu.  Walaupun negara eropa sekarang berada di bawah payung Eropa Union tetap mempertahankan keunikan budaya mereka.
Dalam perspektif psikologi, komunikasi dilihat sebagai alat dalam membentuk prilaku. Tolman, menganggap bahwa ucapan manusia tidak lain adalah suatu alat yang sebetulnya tidak berbeda dengan alat-alat lain. Untuk memahami dunia dan tindakan-tindakan orang lain, kita harus memahami kerangka persepsinya.Oleh karenanya, kita harus belajar memahami bagaimana mempersepsi dunia. Dalam komunikasi lintas budaya secara ideal diharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi.

Menjadi Manusia yang Interkultural        
            Perkembangan jarigan komunikasi dan bertambahnya jumlah orang yang berpindah dan menetap di negara asing secara sementara atau permanen telah menigkatkan kesadaran akan besarnya kebutuhan untuk memahami budaya lain. Menurut walsh (dalam Mulyana,  2012: 42-43) menyatkan bahwa manusia Universal adalah seseorang yang menghormati semua budaya, memahami apa yang orang dari budaya berbeda rasakan, fikirkan, percayai dan mengapresiasi perbedaan budaya.
 Kesalahfahaman antara dua orang dari budaya yang berbeda, sering terjadi karena mereka tidak saling memahami satu sama lain. Sebagai contoh pada pendangan perspektif komunikasi non verbal, Amerika menggunakan kontak mata ketika berbicara. Mereka mengangap bahwa orang yang tidak menatap mata ketika berbicara tidaklah sopan. Berbeda dengan di Indonesia mereka tidak selalu menatap lawan bicara ketika bicara, terutama jika lawan bicara lebih tua atau punya status yang lebih tinggi. Jelasnya kesalahpahaman bisa terjadi ketika orang Amerika dan Indonesia bertemu dan berbicara tanpa memahami perbedaan komunikasi nonverbal.
Kemampuan untuk memahami budaya lain, bukan hanya penting pada level interpersonal tetapi juga pada level internasional . Sejarah megindikasikan  bahwa beberapa konflik dan perang antara dua negara karena kegagalan atau kesulitan dalam menghargai budaya lain. Sebagai contoh Hilter dan pasukannya menginvasi  negara lain di eropa di perang dunia kedua kareana mereka percaya bahwa jerman adalah negara yang paling super daripada negara lain

Bentuk komunikasi antar budaya di Era modern
Dalam era modern ini muncul dan berkembang berbagai model dan bentuk dalam komunikasi antarbudaya. Ada beberapa jenis atau model komunikasi yang menjadi bagian dari komunikasi antarbudaya. Di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Komunikasi internasional (International Communications), yaitu proses komunikasi antara bangsa dan negara. Komunikasi ini tercermin dalam diplomasi dan propaganda, dan seringkali berhubungan dengan situasi intercultural (antarbudaya) dan interracial (antarras). Komunikasi internasional lebih menekankan kepada kebijakan dan kepentingan suatu negara dengan negara lain yang terkait dengan masalah ekonomi, politik, pertahanan, dan lain-lain.
b.      Komunikasi antarras ( interracial communication), yaitu suatu komunikasi yang terjadi apabila sumber dan komunkan berbeda ras
c.       Komunikasi antaretnis ( interethnic communication), yaitu berkaitan dengan keadaan sumber komunikannya, sama ras/suku bangsa tetapi berbeda asal etnis dan latarbelakang.

Pentingnya komunikasi antar budaya dalam dunia global
a.      Dalam bidang ekonomi
Dalam bidang ekonomi komunikasi antarbudaya sanagat dibutuhkan demi kesuksean bisnis, terutama  bisnis skala internasional dan hubungan ekonomi luar negri. Ketika kita berbisnis dalam skala internasional pasti kita akan berhubungan langsung dengan orang yang terlibat dalam bisnis tersebut, untuk menjaga hubungan bisnis agar tetap harmonis perlunya mengetahui budaya dari negara yang dijadikan mitra bisnis. Selain itu implikasi dari peragangan bebas menyebabkan indonesia bukan hanya sebagai jago kandang namun juga harus mampu menghasilkan produk yang mampu bersaing dalam pasar global.
 Lewat survai yang dilakukan kementrian perdagangan dan indutri internasional (MITI) jepang bahwa sebagian besar kegagalan bisnis yang dilakukan asing dengan Jepang karena tidak dipahaminya karakeristik dan budaya komunikasi Jepang. Lalu apa aspek-aspek budaya komunikasi bisnis yang perlu di pahami tersebut, menurut christopher (1989) yaitu gerak tubuh, pemilihan kata, komunikasi non verbal, suara, gerak dan posisi tubuh (postural), kontak mata, sentuhan, pakaian,, air muka, waktu, jarak beebicara (porksemik).
b.      Bidang kesehatan
            Tidak hanya di bidang ekonomi, globalisasi juga berdampak di bidang pendidikan yang menuntut kita untuk memahami komunikasi antar budaya. Ketidakmampuan dalam memahami komunikasi antar budaya akan menghambat proses hubungan atau komunikasi antara osen dengan mahasiswa dari luar negri atau hubungan dengan mahasiswa yang berasal dari  negara lain.
   Sebagai contoh adalah  hambatan komunikasi antarbudaya antara dosen native asal china  dengan mahasiswa indonesia.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan komunikasi antarbudaya yang terjadi muncul tak hanya disebabkan karena adanya perbedaan nilai (agama dan cara pandang) dan kompetensi verbal, namun juga karena adanya perbedaan latar belakang budaya pendidikan kedua pihak unit analisis ini yang memengaruhi bagaimana mereka saling mempersepsi, menyandi dan menyandi balik pesan saat mereka berkomunikasi dalam ruang kelas.


c.       Bidang kesehatan

Beberapa negara memiliki perbedaan dalam penanganan peyakit, bagaimana penyakit diartikan, dan bgimana manusia terlibat dalam menjaga kesehatan berinteraksi dengan yang lain.

Sebagai contoh di beberapa negara afrika dan asia, penyakit dianggap sebagai hukuman dari tuhan karena kesalahanya seperti yang dipahami oleh orang hindu. Dalam pandagan muslim, penyakit diartikan sebagai cobaan dari tuhan untuk membersihkan dosa.. sedangkan di negara barat mereka menganggap bahwa penyakit dikarenakan bakteri atau virus yang menyerang tubuh.





Daftar Pustaka

Ali, Mukti. 2016. Komunikasi Antarbudaya dalam Tradisi Agama Jawa. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group.
Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.
Mulyana, Deddy. 2005. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana,Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya.
Hidayat, Dasrun. 2012. Komunikasi Antarpribadi Dan Medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Narsullah, Rulli. 2014. Komunikasi Antar Budaya Di Era Budaya Siber. Jakarta: Kencana.
J. Baran, Stanley. 2012. Pengantar Komunikasi Massa Melek Media & Budaya. Jakarta: Erlangga.
Darmastuti, Rini. 2013. Minfulness dalam Komunikasi Antarbudaya. Malang: Buku Litera.
Darmastuti, Rini. 2013. Komunikasi Antarbudaya : Konsep, Teori, dan Aplikasi. Malang: Buku Litera.
Sihabudin, Ahmad. 2011. Komunikasi Antarbudaya Satu Perspektif Multidimensi. Jakarta: PT Bumi Aksara.