Monday, June 4, 2018

Pengaruh Komunikasi Antarbudaya Dalam Dunia Global

Pengaruh Komunikasi Antarbudaya Dalam Dunia Global

Ditulis oleh: Subandana Adi Saputra

Download PDF
           
Komunikasi antar budaya dapat dipersepsi sebagai perbedaan kebudayaan dalam mempersepsi objek-objek dan kejadian-kejadian. Menurut porter dan samovar dalam mukti (2016:13) pengaruh budaya dapat dilihat dari cara berkomunikasi, bahasa dan gaya bahasa, serta perilaku  nonverbal  yang merupakan bentuk respon atas budaya.
Porter dan samovar mengemukakan bahwa untuk mengkaji komunikasi antar budaya perlu dipahami hubungan antara kebudayaan dan komunikasi. Budya mempengaruhi manusia dalam belajar berkomunikasi dan memandang dunia melalui kategori-kategori, konsep-konsep dari label yang dihasilkan budayanya.
Di era global saat ini pemahaman tentang  kounikasi antar budaya sangat diperlukan karena kan sangat menunjang keberhasilan dalm berkomunikasi lingkup global, bisa saling memehami  dan menghindari konflik karena keslahpahaman.
Dalam alquran pun diterangkan beberapa ayat tentang pentingnya memahami perbedan
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs Al hujarat:13)
Beberapa dari kita mungkin bertanya-tanya mengapa  kita  harus menekankan perbedaan budaya. Akankah globlisasi dalam jangka panjangkan menyebabkan Universality of cultures dimana manusia akan berbicara dengan bahasa yang sama (ingris) dan mempraktikan norma dan nilai yang sama? Jauh dari idealnya, budaya akan tetap beranekaa ragam walaupun setiap budaya yang ada akan berubah setiap waktu.  Walaupun negara eropa sekarang berada di bawah payung Eropa Union tetap mempertahankan keunikan budaya mereka.
Dalam perspektif psikologi, komunikasi dilihat sebagai alat dalam membentuk prilaku. Tolman, menganggap bahwa ucapan manusia tidak lain adalah suatu alat yang sebetulnya tidak berbeda dengan alat-alat lain. Untuk memahami dunia dan tindakan-tindakan orang lain, kita harus memahami kerangka persepsinya.Oleh karenanya, kita harus belajar memahami bagaimana mempersepsi dunia. Dalam komunikasi lintas budaya secara ideal diharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi.

Menjadi Manusia yang Interkultural        
            Perkembangan jarigan komunikasi dan bertambahnya jumlah orang yang berpindah dan menetap di negara asing secara sementara atau permanen telah menigkatkan kesadaran akan besarnya kebutuhan untuk memahami budaya lain. Menurut walsh (dalam Mulyana,  2012: 42-43) menyatkan bahwa manusia Universal adalah seseorang yang menghormati semua budaya, memahami apa yang orang dari budaya berbeda rasakan, fikirkan, percayai dan mengapresiasi perbedaan budaya.
 Kesalahfahaman antara dua orang dari budaya yang berbeda, sering terjadi karena mereka tidak saling memahami satu sama lain. Sebagai contoh pada pendangan perspektif komunikasi non verbal, Amerika menggunakan kontak mata ketika berbicara. Mereka mengangap bahwa orang yang tidak menatap mata ketika berbicara tidaklah sopan. Berbeda dengan di Indonesia mereka tidak selalu menatap lawan bicara ketika bicara, terutama jika lawan bicara lebih tua atau punya status yang lebih tinggi. Jelasnya kesalahpahaman bisa terjadi ketika orang Amerika dan Indonesia bertemu dan berbicara tanpa memahami perbedaan komunikasi nonverbal.
Kemampuan untuk memahami budaya lain, bukan hanya penting pada level interpersonal tetapi juga pada level internasional . Sejarah megindikasikan  bahwa beberapa konflik dan perang antara dua negara karena kegagalan atau kesulitan dalam menghargai budaya lain. Sebagai contoh Hilter dan pasukannya menginvasi  negara lain di eropa di perang dunia kedua kareana mereka percaya bahwa jerman adalah negara yang paling super daripada negara lain

Bentuk komunikasi antar budaya di Era modern
Dalam era modern ini muncul dan berkembang berbagai model dan bentuk dalam komunikasi antarbudaya. Ada beberapa jenis atau model komunikasi yang menjadi bagian dari komunikasi antarbudaya. Di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Komunikasi internasional (International Communications), yaitu proses komunikasi antara bangsa dan negara. Komunikasi ini tercermin dalam diplomasi dan propaganda, dan seringkali berhubungan dengan situasi intercultural (antarbudaya) dan interracial (antarras). Komunikasi internasional lebih menekankan kepada kebijakan dan kepentingan suatu negara dengan negara lain yang terkait dengan masalah ekonomi, politik, pertahanan, dan lain-lain.
b.      Komunikasi antarras ( interracial communication), yaitu suatu komunikasi yang terjadi apabila sumber dan komunkan berbeda ras
c.       Komunikasi antaretnis ( interethnic communication), yaitu berkaitan dengan keadaan sumber komunikannya, sama ras/suku bangsa tetapi berbeda asal etnis dan latarbelakang.

Pentingnya komunikasi antar budaya dalam dunia global
a.      Dalam bidang ekonomi
Dalam bidang ekonomi komunikasi antarbudaya sanagat dibutuhkan demi kesuksean bisnis, terutama  bisnis skala internasional dan hubungan ekonomi luar negri. Ketika kita berbisnis dalam skala internasional pasti kita akan berhubungan langsung dengan orang yang terlibat dalam bisnis tersebut, untuk menjaga hubungan bisnis agar tetap harmonis perlunya mengetahui budaya dari negara yang dijadikan mitra bisnis. Selain itu implikasi dari peragangan bebas menyebabkan indonesia bukan hanya sebagai jago kandang namun juga harus mampu menghasilkan produk yang mampu bersaing dalam pasar global.
 Lewat survai yang dilakukan kementrian perdagangan dan indutri internasional (MITI) jepang bahwa sebagian besar kegagalan bisnis yang dilakukan asing dengan Jepang karena tidak dipahaminya karakeristik dan budaya komunikasi Jepang. Lalu apa aspek-aspek budaya komunikasi bisnis yang perlu di pahami tersebut, menurut christopher (1989) yaitu gerak tubuh, pemilihan kata, komunikasi non verbal, suara, gerak dan posisi tubuh (postural), kontak mata, sentuhan, pakaian,, air muka, waktu, jarak beebicara (porksemik).
b.      Bidang kesehatan
            Tidak hanya di bidang ekonomi, globalisasi juga berdampak di bidang pendidikan yang menuntut kita untuk memahami komunikasi antar budaya. Ketidakmampuan dalam memahami komunikasi antar budaya akan menghambat proses hubungan atau komunikasi antara osen dengan mahasiswa dari luar negri atau hubungan dengan mahasiswa yang berasal dari  negara lain.
   Sebagai contoh adalah  hambatan komunikasi antarbudaya antara dosen native asal china  dengan mahasiswa indonesia.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan komunikasi antarbudaya yang terjadi muncul tak hanya disebabkan karena adanya perbedaan nilai (agama dan cara pandang) dan kompetensi verbal, namun juga karena adanya perbedaan latar belakang budaya pendidikan kedua pihak unit analisis ini yang memengaruhi bagaimana mereka saling mempersepsi, menyandi dan menyandi balik pesan saat mereka berkomunikasi dalam ruang kelas.


c.       Bidang kesehatan

Beberapa negara memiliki perbedaan dalam penanganan peyakit, bagaimana penyakit diartikan, dan bgimana manusia terlibat dalam menjaga kesehatan berinteraksi dengan yang lain.

Sebagai contoh di beberapa negara afrika dan asia, penyakit dianggap sebagai hukuman dari tuhan karena kesalahanya seperti yang dipahami oleh orang hindu. Dalam pandagan muslim, penyakit diartikan sebagai cobaan dari tuhan untuk membersihkan dosa.. sedangkan di negara barat mereka menganggap bahwa penyakit dikarenakan bakteri atau virus yang menyerang tubuh.





Daftar Pustaka

Ali, Mukti. 2016. Komunikasi Antarbudaya dalam Tradisi Agama Jawa. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group.
Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.
Mulyana, Deddy. 2005. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana,Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya.
Hidayat, Dasrun. 2012. Komunikasi Antarpribadi Dan Medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Narsullah, Rulli. 2014. Komunikasi Antar Budaya Di Era Budaya Siber. Jakarta: Kencana.
J. Baran, Stanley. 2012. Pengantar Komunikasi Massa Melek Media & Budaya. Jakarta: Erlangga.
Darmastuti, Rini. 2013. Minfulness dalam Komunikasi Antarbudaya. Malang: Buku Litera.
Darmastuti, Rini. 2013. Komunikasi Antarbudaya : Konsep, Teori, dan Aplikasi. Malang: Buku Litera.
Sihabudin, Ahmad. 2011. Komunikasi Antarbudaya Satu Perspektif Multidimensi. Jakarta: PT Bumi Aksara.

No comments:

Post a Comment