Thursday, June 7, 2018

Identitas dalam Komunikasi antar Budaya


Identitas dalam Komunikasi antar Budaya

Ditulis oleh : Arista Rizki


Komunikasi antar Budaya (Intercultural, Communication) merujuk pada komunikasi antara individu individu yang latar belakang budayanya berbeda. Individu individu ini tidak harus selalu berasa dari negara yang berbeda, bukan pula rumpun, rasa tau suku budaya melainkan pada realitasnya bahwa setiap individu sudah berbeda pula budayanya. Maka dalam sebuah komunikasi budaya ini harus ada identitasnya, supaya dapat mengetahui atau dapat menonjolkan budaya di daerah tertentu. Semua perwujudan, baik yang berupa struktur maupun proses dari kegiatan manusia dalam dimensi ideasional, etis, estetis itu adalah kebudayaan. Selanjutnya E.B Tayor dalam bukunya “Primitive Culture” merumuskan definisi secara sistematis dan ilmiah tentang kebudayaan sebagai berikut : “kebudayaan adalah komplikasi (jalinan) dalam keseluruhan yang meliputi keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, agama dll.
Identitas adalah jati diri yang dimiliki seseorang yang ia peroleh sejak lahir hingga melalui proses interaksi yang dilakukannya setiap hari dalam kehidupannya dan kemudian membentuk suatu pola khusus yang mendefinisikan tentang orang tersebut. Sedangkan Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sehingga Identitas Budaya memiliki pengertian suatu karakter khusus yang melekat dalam suatu kebudayaan sehingga bisa dibedakan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Menurut Goldman, seorang pengarang tidak mungkin menciptakan atau mempunyai pandangan sendiri. Pada dasarnya dia menyuarakan pandangan tersebut bukanlah suatu realitas, melaikan sesuatu yang hanya dapat dinyatakan secara imajinatif dan konseptual dalam bentuk karya sastra besar (Goldman 1975 : 5; Junus, 1986 : 225). Ada tiga factor dalam identitas kebudayaan, diantaranya :
1.      Kepercayaan. Kepercayaan menjadi faktor utama dalam identitas budaya, tanpa adanya kepercayaan yang di anut maka tidak akan terbentuk suatu identitas budaya yang melekat pada suatu kebudayaan. Contohnya mempercayai tradisi pecah telur pada saat resepsi pernikahan yang dipercaya sebagai salah satu tradisi penting masyarakat Jawa dalam resepsi pernikahan.
2.      Rasa aman. Perasaan aman atau positif bagi penganut suatu kebudayaan menjadi faktor terbentuknya identitas budaya, karena tanpa adanya rasa aman dari pelaku kegiatan budaya maka tidak akan dilakukan secara terus menerus sesuatu yang dianggapnya negatif dan tidak aman. Contohnya tidak ada kebiasaan menyakiti sesama karena dianggap saling menyakiti adalah tidak memberikan rasa aman bagi siapapun.
3.      Pola perilaku. Pola perilaku juga menjadi faktor pembentuk identitas budaya, bagaimana pola perilaku kita dimasyarakat mencerminkan identitas budaya yang kita anut. Dalam hal ini biasa terjadinya diskriminasi terhadap orang-orang tertentu yang berprilaku kurang baik menurut orang sekitarnya yang pada umumnya didalam budaya orang tersebut adalah sesuatu yang wajar dilakukan.

Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki warisan budaya yang sangat kaya. Berbagai macam tradisi dan adat-istiadat yang dimiliki Indonesia seperti menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Indonesia menjadi kaya karena budayanya. Kekayaan budaya itu ditambah lagi dengan masuknya berbagai unsur kebudayaan asing ke dalam Indonesia melalui proses akulturasi dan asimilasi. Akulturasi adalah bergabungnya dua kebudayaan atau lebih  sehingga menciptakan suatu kebudayaan baru, tanpa menghilangkan kepribadian dari kebudayaan asli. Sedangkan asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan atau lebih sehingga menghasilkan suatu kebudayaan baru, yang berbeda dengan kebudayaan aslinya. Asimilasi ini biasa terjadi pada golongan minoritas dan golongan mayoritas pada suatu tempat.
Masyarakat Indonesia dikatakan multicultural, karena konsep inilah yang mengedepankan nilai budaya. Sehingga kita kerap mendengan Islam Nusantara yang tak jauh dari pluralisme. Konsep yang berkaitan dengan komunikasi antar budaya meliputi Etnik, Ras, etnosentris, dan Multikultural. Etnik adalah suatu kumpulan orang yang disadarkan oleh suatu budaya yang sama. Ras adalah suatu himpunan manusia yang disamakan baik bentuk fisik nya atau keturunannya. Etnosentris adalah sebuah keinginan hati yang lebih yang ingin membuktikan bahwa kelompok nya lebih superior dibangding kelompok lain. Sedangkan multicultural yaitu sebuah susunan dari kebudayaan.
 Benar yang dikatakan Andreas Schneider bahwa peran itu peran itu lebih mengacu pada harapan dan tidaka sekedar pada perilaku actual dan peran itu lebih bersifat normative dari pada sekedar deskriptif. Pada umumnya suatu kelompok atau kultur social pastiselalu memiliki peraturan seperti : perilaku peran dan nilai nilaidemikian pula halnya dengan organisasi. Oleh karena itu organisasi harus mengidentifikasi jenis kultur, norma norma atau aturan yang dianut. Dari penjabaran pengertian di atas kemudian berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi identitas budaya maupun yang berkaitan erat dengan identitas budaya yaitu :
Asimilasi budaya
Pengertian asimilasi budaya adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Hasil dari proses asimilasi yaitu semakin tipisnya batas perbedaan antarindividu dalam suatu kelompok, atau bisa juga batas-batas antarkelompok. Selanjutnya, individu melakukan identifikasi diri dengan kepentingan bersama. Artinya, menyesuaikan kemauannya dengan kemauan kelompok. Demikian pula antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
Golongan yang biasanya mengalami proses asimilasi adalah golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Dalam hal ini, kebudayaan minoritaslah yang mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaannya, dengan tujuan menyesuaikan diri dengan kebudayaan mayoritas; sehingga lambat laun kebudayaan minoritas tersebut kehilangan kepribadian kebudayaannya dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.
Faktor penghambat asimilasi budaya :
1.      Kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan yang dihadapi.
2.      Sifat takut terhadap kekuatan dari kebudayaan lain.
3.      Perasaan superioritas pada individu-individu dari satu kebudayaan terhadap yang lain.
4.      Toleransi dan simpati yang kurang dari pihak mayoritas.
Contoh dari asimilasi budaya adalah :
Salah satu contoh proses asimilasi adalah program transmigrasi yang dilaksanakan di Riau pada masa pemerintahan Orde Baru. Program transmigrasi ini tidak hanya berhasil meratakan jumlah penduduk di berbagai pulau di Indonesia, tetapi program transmigrasi ini juga mengakibatkan terjadinya asimilasi, terutama diwilayah Riau. Hal ini terlihat dari banyaknya transmigran yang menghasilkan budaya baru, misalnya Jawa-Melayu, Mandailing-Melayu, dan lain sebagainya.
Akulturasi budaya
Akulturasi (acculturation atau culture contact) adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Faktor-faktor yang menyebabkan Akulturasi budaya sebagai proses hilangnya suatu identitas budaya adalah :
1.      Individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur kebudayaan asing.
2.      Saluran-saluran yang dilalui oleh unsur-unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam km kebudayaan penerima terbuka lebar.
3.      Sifat penerima tanpa adanya filtering dari masyarakat Indonesia yang menyebabkan budaya asing yang negatif pun dengan sangat mudah masuk dan menjadi budaya Indonesia sekarang.
Contoh dari Akulturasi budaya positif :
Kereta Singa Barong kota Cirebon, yang dibuat pada tahun 1549, merupakan refleksi dari persahabatan Cirebon dengan bangsa-bangsa lain. Wajah kereta ini merupakan perwujudan tiga binatang yang digabung menjadi satu, gajah dengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh hewan burak.
Belalai gajah merupakan persahabatan dengan India yang beragama Hindu,kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam.
Contoh dari Akulturasi budaya negatif :
Mulai masuknya budaya free sex dikalangan remaja yang merupakan ciri khas dari beberapa budaya luar yang mulai merasuki budaya Indonesia seiring dengan perkembangan jaman.
Sekurang-kurangnya ada dua akibat identitas sosial-budaya, yakni terciptanya kategori sosial dan stratifikasi sosial. Kategori sosial adalah kategori suatu masyarakat berdasarkan identitas-identitas sosial tertentu yang diduga dapat menampilkan pola komunikasi antarbudaya tertentu pula. Sedang stratifikasi sosial berkaitan dengan cara pandang masyarakat teradap lapisan-lapisan sosial yang terbentuk karena adanya perbedaan dominasi dalam relasi antar kelompok. Kategorisasi sosial budaya itu sendiri dapat dirinci sebagai berikut:
1.      Wilayah, Desa, dan KotaYakni pembedaan pola-pola komunikasi antar ornag desa dan kota berdasarkan identitas kehidupan, apakah kosmopolitan, ritualisasi, pemeliharaan budaya, dan konsep tentang relasi antarmanusia.
2.      Etnosentrisme Bahwa setiap kelompok, etnik, atau ras mempunyai semangat atau ideologi yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok enik atau ras lain.
3.      Stereotip Evaluasi atau penilaian yang kita berikan kepada seseorang secara negatif, memiliki sifat-sifat ynag negatif hanya karena keanggotaan orang itu pada kelompok tertentu.
4.      Prasangka Sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi atau generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan sebagai perasaan. Prasangka merupakan sikap negatif yang ditujukan kepada suatu kelompok buday ayang didasarkan pada sedikit pengalaman atau nbahkan tanpa pengalaman sama sekali.
5.      Diskriminasi Perilaku yang dihasilkan oleh stereotip atau prasangka, lalu ditunjukkan pada sikap yang terbuka atau rencana tertutup untuk menyingkirkan, menjahui, atau membuka jarak, baik bersifat fisik maupun sosial dengan kelompok-kelompok tertentu.

Dalam pengertian sederhana yang kita maksudkan dengan identitas budaya adalah rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya tatkala dibandingkan dengan karekteristik atau ciri-ciri orang lain. Kenneth Burke mengatakan bahwa menentukan identitas budaya itu sangat tergantung pada bahasa, sebagaimana representasi bahasa menjelaskan semua kenyataan atas semua identitas yang dirinci kemudian dibandingkan. Lisa Orr juga menegaskan bahwa untuk mengetahui identitas orang lain  pada awal berkomunikasi merupakan pertanyaan yang paling sulit, apalagi kalau berkeinginan mengetahui kebudayaan otentik dari orang itu. Mengenal identitas seseorang tidak bisa hanya dengan sepotong-potng karena identitas budaya merupakan cultural totalization. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jika kita bicara identitas maka kita hanya bicara tentang karakteristik tertentu dan karakteristik itu merupakan penunjuk untuk mengenal kelompok lain sehingga memudahkan kita berkomunikasi dengan mereka. Sebaliknya, jika kita bicara tentang pola budaya maka yang kita tekankan adalah bagaimana sebuah identitas itu terbentuk dari pandangan dan gagasan tertentu yang pada giliranya membimbing mereka. Sehingga identitas itu bersifat statis, dan pola budaya merupakan sesuatu yang hidup.

Identitas kebudayaan kita dikembangkan melalui proses yang meliputi beberapa tahap:

1.      Identitas budaya yang tak disengaja
Pada tahap ini, identitas budaya terbentuk secara tidak disengaja atau tidak disadari. Anda terpengaruh oleh budaya dominan hanya karena Anda merasa budaya milik Anda kurang akomodatif, sehingga Anda ikut-ikutan membentuk identitas baru.
2.      Pencarian Identitas Budaya
Pencarian identitas budaya meliputi sebuah proses penanjakan, bertanya,d an uji coba atas sebuah identitas lain, di mana Anda terus mencari dan belajar tentang itu dengan melakukan penelitian mendalam, bertanya pada keluarga atau teman, atau bahkan melacaknya secara ilmiah.
3.      Identitas Budaya yang Diperoleh
Yaitu bentuk identitas yang dirincikan oleh kejelasan dan keyakinan terhadap penerimaan diri aAnda melalui interaksi kebudayaan sehingga membentuk identitas Anda.
4.      Konformitas: Internalisasi
Proses pembentukan juga identitas dapat diperoleh melalui internalisasi yang membentuk konformitas. Jadi, proses internalisasi berfungsi untuk membuat norma-norma yang Anda miliki menjadi sama dengan norma-norma yang dominan, atau membuat norma yang Anda miliki berasimilasi ke dalam kultur dominan.
5.      Resistensi dan Separatisme
Adalah pembentukan identitas sebuah kultur dari sebuah komunitas tertentu sebagai suatu komunitas yang berperilaku eksklusif untuk menolak norma-norma kultur dominan.



6.      Integrasi
Pembentukan dengan cara seseorang atau sekelompok orang mengembangkan identitas baru yang merupakan hasil integrasi pelbagai budaya dari komunitas ata masyarakat asal.
Nah itulah adalah singkatan atau bahasan yang mempunyai arti yang lebih dalam sebuah identitas kebudayaan, semoga bisa menjadi manfaat bagi siapapun yang membacanya. Amiin

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 1997. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : PT Rineka Cipta
Ali, Mukti. 2017. Komunikasi Antar Budaya Tradisi Agama Islam.
Yogyakarta : CV. Pustaka Ilmu Group
Fananie, Zainudin. 2000. Restrukturi Budaya Jawa perspektif KGPAA MN 1.
            Surakarta : Muhammadia University Press
Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Koentjaraningrat. 1979. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : djambatan
Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya.
Yogyakarta : LKis Yogyakarta
Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta. :  Grasindo

No comments:

Post a Comment