Identitas dalam Komunikasi antar Budaya
Ditulis oleh : Arista Rizki
Komunikasi antar Budaya
(Intercultural, Communication) merujuk pada komunikasi antara individu individu
yang latar belakang budayanya berbeda. Individu individu ini tidak harus selalu
berasa dari negara yang berbeda, bukan pula rumpun, rasa tau suku budaya
melainkan pada realitasnya bahwa setiap individu sudah berbeda pula budayanya.
Maka dalam sebuah komunikasi budaya ini harus ada identitasnya, supaya dapat
mengetahui atau dapat menonjolkan budaya di daerah tertentu. Semua perwujudan,
baik yang berupa struktur maupun proses dari kegiatan manusia dalam dimensi
ideasional, etis, estetis itu adalah kebudayaan. Selanjutnya E.B Tayor dalam
bukunya “Primitive Culture” merumuskan definisi secara sistematis dan ilmiah
tentang kebudayaan sebagai berikut : “kebudayaan adalah komplikasi (jalinan)
dalam keseluruhan yang meliputi keseluruhan yang meliputi pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, agama dll.
Identitas adalah jati
diri yang dimiliki seseorang yang ia peroleh sejak lahir hingga melalui proses
interaksi yang dilakukannya setiap hari dalam kehidupannya dan kemudian
membentuk suatu pola khusus yang mendefinisikan tentang orang tersebut.
Sedangkan Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang
atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sehingga Identitas Budaya memiliki pengertian suatu
karakter khusus yang melekat dalam suatu kebudayaan sehingga bisa dibedakan
antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Menurut Goldman, seorang
pengarang tidak mungkin menciptakan atau mempunyai pandangan sendiri. Pada
dasarnya dia menyuarakan pandangan tersebut bukanlah suatu realitas, melaikan
sesuatu yang hanya dapat dinyatakan secara imajinatif dan konseptual dalam
bentuk karya sastra besar (Goldman 1975 : 5; Junus, 1986 : 225). Ada tiga
factor dalam identitas kebudayaan, diantaranya :
1.
Kepercayaan. Kepercayaan menjadi faktor utama dalam identitas
budaya, tanpa adanya kepercayaan yang di anut maka tidak akan terbentuk suatu
identitas budaya yang melekat pada suatu kebudayaan. Contohnya mempercayai
tradisi pecah telur pada saat resepsi pernikahan yang dipercaya sebagai salah
satu tradisi penting masyarakat Jawa dalam resepsi pernikahan.
2.
Rasa aman. Perasaan aman atau positif bagi penganut suatu
kebudayaan menjadi faktor terbentuknya identitas budaya, karena tanpa adanya
rasa aman dari pelaku kegiatan budaya maka tidak akan dilakukan secara terus
menerus sesuatu yang dianggapnya negatif dan tidak aman. Contohnya tidak ada
kebiasaan menyakiti sesama karena dianggap saling menyakiti adalah tidak
memberikan rasa aman bagi siapapun.
3.
Pola perilaku. Pola perilaku juga menjadi faktor pembentuk
identitas budaya, bagaimana pola perilaku kita dimasyarakat mencerminkan
identitas budaya yang kita anut. Dalam hal ini biasa terjadinya diskriminasi
terhadap orang-orang tertentu yang berprilaku kurang baik menurut orang
sekitarnya yang pada umumnya didalam budaya orang tersebut adalah sesuatu yang
wajar dilakukan.
Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku
bangsa, memiliki warisan budaya yang sangat kaya. Berbagai macam tradisi dan adat-istiadat
yang dimiliki Indonesia seperti menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia.
Indonesia menjadi kaya karena budayanya. Kekayaan budaya itu ditambah lagi
dengan masuknya berbagai unsur kebudayaan asing ke dalam Indonesia melalui
proses akulturasi dan asimilasi. Akulturasi adalah bergabungnya dua kebudayaan
atau lebih sehingga menciptakan suatu
kebudayaan baru, tanpa menghilangkan kepribadian dari kebudayaan asli.
Sedangkan asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan atau lebih sehingga
menghasilkan suatu kebudayaan baru, yang berbeda dengan kebudayaan aslinya.
Asimilasi ini biasa terjadi pada golongan minoritas dan golongan mayoritas pada
suatu tempat.
Masyarakat Indonesia
dikatakan multicultural, karena konsep inilah yang mengedepankan nilai budaya. Sehingga
kita kerap mendengan Islam Nusantara yang tak jauh dari pluralisme. Konsep yang
berkaitan dengan komunikasi antar budaya meliputi Etnik, Ras, etnosentris, dan
Multikultural. Etnik adalah suatu kumpulan orang yang disadarkan oleh suatu
budaya yang sama. Ras adalah suatu himpunan manusia yang disamakan baik bentuk
fisik nya atau keturunannya. Etnosentris adalah sebuah keinginan hati yang
lebih yang ingin membuktikan bahwa kelompok nya lebih superior dibangding
kelompok lain. Sedangkan multicultural yaitu sebuah susunan dari kebudayaan.
Benar yang dikatakan Andreas Schneider bahwa
peran itu peran itu lebih mengacu pada harapan dan tidaka sekedar pada perilaku
actual dan peran itu lebih bersifat normative dari pada sekedar deskriptif.
Pada umumnya suatu kelompok atau kultur social pastiselalu memiliki peraturan
seperti : perilaku peran dan nilai nilaidemikian pula halnya dengan organisasi.
Oleh karena itu organisasi harus mengidentifikasi jenis kultur, norma norma
atau aturan yang dianut. Dari penjabaran pengertian di atas kemudian
berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi identitas budaya maupun yang
berkaitan erat dengan identitas budaya yaitu :
Asimilasi
budaya
Pengertian asimilasi budaya adalah pembauran dua
kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga
membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi
perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi
meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan
memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Hasil dari proses asimilasi yaitu semakin
tipisnya batas perbedaan antarindividu dalam suatu kelompok, atau bisa juga
batas-batas antarkelompok. Selanjutnya, individu melakukan identifikasi diri
dengan kepentingan bersama. Artinya, menyesuaikan kemauannya dengan kemauan
kelompok. Demikian pula antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
Golongan yang biasanya mengalami proses
asimilasi adalah golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Dalam hal
ini, kebudayaan minoritaslah yang mengubah sifat khas dari unsur-unsur
kebudayaannya, dengan tujuan menyesuaikan diri dengan kebudayaan mayoritas;
sehingga lambat laun kebudayaan minoritas tersebut kehilangan kepribadian
kebudayaannya dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.
Faktor penghambat asimilasi budaya :
1.
Kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan yang dihadapi.
2.
Sifat takut terhadap kekuatan dari kebudayaan lain.
3.
Perasaan superioritas pada individu-individu dari satu kebudayaan
terhadap yang lain.
4.
Toleransi dan simpati yang kurang dari pihak mayoritas.
Contoh dari asimilasi budaya adalah :
Salah satu contoh proses asimilasi adalah
program transmigrasi yang dilaksanakan di Riau pada masa pemerintahan Orde
Baru. Program transmigrasi ini tidak hanya berhasil meratakan jumlah penduduk
di berbagai pulau di Indonesia, tetapi program transmigrasi ini juga
mengakibatkan terjadinya asimilasi, terutama diwilayah Riau. Hal ini terlihat
dari banyaknya transmigran yang menghasilkan budaya baru, misalnya Jawa-Melayu,
Mandailing-Melayu, dan lain sebagainya.
Akulturasi budaya
Akulturasi (acculturation atau culture contact)
adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan
tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan
sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima
dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian
kebudayaan itu sendiri.
Faktor-faktor yang menyebabkan Akulturasi budaya sebagai proses
hilangnya suatu identitas budaya adalah :
1.
Individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur
kebudayaan asing.
2.
Saluran-saluran yang dilalui oleh unsur-unsur kebudayaan asing
untuk masuk ke dalam km kebudayaan penerima terbuka lebar.
3.
Sifat penerima tanpa adanya filtering dari masyarakat Indonesia
yang menyebabkan budaya asing yang negatif pun dengan sangat mudah masuk dan
menjadi budaya Indonesia sekarang.
Contoh dari Akulturasi budaya positif :
Kereta Singa Barong kota Cirebon, yang dibuat
pada tahun 1549, merupakan refleksi dari persahabatan Cirebon dengan
bangsa-bangsa lain. Wajah kereta ini merupakan perwujudan tiga binatang yang
digabung menjadi satu, gajah dengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh
hewan burak.
Belalai gajah merupakan persahabatan dengan
India yang beragama Hindu,kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina
yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkan
persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam.
Contoh dari Akulturasi budaya negatif :
Mulai masuknya budaya free sex dikalangan remaja yang merupakan
ciri khas dari beberapa budaya luar yang mulai merasuki budaya Indonesia
seiring dengan perkembangan jaman.
Sekurang-kurangnya ada dua akibat
identitas sosial-budaya, yakni terciptanya kategori sosial dan stratifikasi
sosial. Kategori sosial adalah kategori suatu masyarakat berdasarkan
identitas-identitas sosial tertentu yang diduga dapat menampilkan pola
komunikasi antarbudaya tertentu pula. Sedang stratifikasi sosial berkaitan
dengan cara pandang masyarakat teradap lapisan-lapisan sosial yang terbentuk
karena adanya perbedaan dominasi dalam relasi antar kelompok. Kategorisasi
sosial budaya itu sendiri dapat dirinci sebagai berikut:
1.
Wilayah, Desa, dan KotaYakni pembedaan pola-pola
komunikasi antar ornag desa dan kota berdasarkan identitas kehidupan, apakah
kosmopolitan, ritualisasi, pemeliharaan budaya, dan konsep tentang relasi
antarmanusia.
2.
Etnosentrisme Bahwa setiap kelompok, etnik, atau
ras mempunyai semangat atau ideologi yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih
superior daripada kelompok enik atau ras lain.
3.
Stereotip Evaluasi atau penilaian yang
kita berikan kepada seseorang secara negatif, memiliki sifat-sifat ynag negatif
hanya karena keanggotaan orang itu pada kelompok tertentu.
4.
Prasangka Sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan
generalisasi atau generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan sebagai
perasaan. Prasangka merupakan sikap negatif yang ditujukan kepada suatu kelompok
buday ayang didasarkan pada sedikit pengalaman atau nbahkan tanpa pengalaman
sama sekali.
5.
Diskriminasi Perilaku yang dihasilkan oleh stereotip atau
prasangka, lalu ditunjukkan pada sikap yang terbuka atau rencana tertutup untuk
menyingkirkan, menjahui, atau membuka jarak, baik bersifat fisik maupun sosial
dengan kelompok-kelompok tertentu.
Dalam
pengertian sederhana yang kita maksudkan dengan identitas budaya adalah rincian
karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok
orang yang kita ketahui batas-batasnya tatkala dibandingkan dengan
karekteristik atau ciri-ciri orang lain. Kenneth
Burke mengatakan bahwa menentukan identitas budaya itu sangat tergantung pada
bahasa, sebagaimana representasi bahasa menjelaskan semua kenyataan atas semua
identitas yang dirinci kemudian dibandingkan. Lisa Orr juga menegaskan bahwa
untuk mengetahui identitas orang lain
pada awal berkomunikasi merupakan pertanyaan yang paling sulit, apalagi
kalau berkeinginan mengetahui kebudayaan otentik dari orang itu. Mengenal
identitas seseorang tidak bisa hanya dengan sepotong-potng karena identitas
budaya merupakan cultural totalization. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jika
kita bicara identitas maka kita hanya bicara tentang karakteristik tertentu dan
karakteristik itu merupakan penunjuk untuk mengenal kelompok lain sehingga
memudahkan kita berkomunikasi dengan mereka. Sebaliknya, jika kita bicara
tentang pola budaya maka yang kita tekankan adalah bagaimana sebuah identitas
itu terbentuk dari pandangan dan gagasan tertentu yang pada giliranya
membimbing mereka. Sehingga identitas itu bersifat statis, dan pola budaya
merupakan sesuatu yang hidup.
Identitas kebudayaan
kita dikembangkan melalui proses yang meliputi beberapa tahap:
1.
Identitas budaya yang tak disengaja
Pada tahap ini, identitas budaya terbentuk
secara tidak disengaja atau tidak disadari. Anda terpengaruh oleh budaya
dominan hanya karena Anda merasa budaya milik Anda kurang akomodatif, sehingga
Anda ikut-ikutan membentuk identitas baru.
2.
Pencarian Identitas Budaya
Pencarian identitas budaya meliputi sebuah proses penanjakan,
bertanya,d an uji coba atas sebuah identitas lain, di mana Anda terus mencari
dan belajar tentang itu dengan melakukan penelitian mendalam, bertanya pada
keluarga atau teman, atau bahkan melacaknya secara ilmiah.
3.
Identitas Budaya yang Diperoleh
Yaitu bentuk identitas yang dirincikan oleh kejelasan dan
keyakinan terhadap penerimaan diri aAnda melalui interaksi kebudayaan sehingga
membentuk identitas Anda.
4.
Konformitas: Internalisasi
Proses pembentukan juga identitas dapat diperoleh melalui
internalisasi yang membentuk konformitas. Jadi, proses internalisasi berfungsi
untuk membuat norma-norma yang Anda miliki menjadi sama dengan norma-norma yang
dominan, atau membuat norma yang Anda miliki berasimilasi ke dalam kultur
dominan.
5.
Resistensi dan Separatisme
Adalah pembentukan identitas sebuah kultur dari
sebuah komunitas tertentu sebagai suatu komunitas yang berperilaku eksklusif
untuk menolak norma-norma kultur dominan.
6.
Integrasi
Pembentukan dengan cara seseorang atau
sekelompok orang mengembangkan identitas baru yang merupakan hasil integrasi
pelbagai budaya dari komunitas ata masyarakat asal.
Nah itulah adalah
singkatan atau bahasan yang mempunyai arti yang lebih dalam sebuah identitas
kebudayaan, semoga bisa menjadi manfaat bagi siapapun yang membacanya. Amiin
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 1997. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : PT
Rineka Cipta
Ali, Mukti. 2017. Komunikasi Antar Budaya Tradisi
Agama Islam.
Yogyakarta : CV. Pustaka Ilmu Group
Fananie, Zainudin. 2000. Restrukturi Budaya Jawa
perspektif KGPAA MN 1.
Surakarta
: Muhammadia University Press
Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Koentjaraningrat. 1979. Manusia dan Kebudayaan di
Indonesia. Jakarta : djambatan
Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya Dalam Komunikasi
Antar Budaya.
Yogyakarta : LKis Yogyakarta
Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta.
: Grasindo
No comments:
Post a Comment